Jumat, 29 Oktober 2010

Gempa 5,1 SR Kembali Guncang Mentawai

Jakarta, (tvOne)

Kepulauan Mentawai kembali diguncang gempa berkekuatan 5,1 Skala Richter (SR) pada pukul 01.05 WIB Sabtu dinihari.

Data yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), menyebut pusat gempa berada di 108 km barat daya Pulau Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Menurut BMKG, gempa dengan kedalaman 27 km dari permukaan tersebut tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan catatan, sejak 25 Oktober 2010, Keulauan Mentawai ini telah diguncang gempa berkekuatan 7,2 SR yang menimbulkan tsunami, telah disusul gempa sebanyak 19 kali hingga Sabtu ini.

Pada pemberitaan sebelumnya, gempa berkekuatan 7,2 SR ini telah menyebabkan 408 orang meninggal, 303 belum diketemukan, 270 orang luka berat dan 142 luka ringan.

Selain itu, bencana gempa juga menyebabkan 517 unit rumah mengalami rusak berat dan 204 rusak ringan. Gempa yang disertai tsunami ini telah menyebabkan sekitar 23 ribu orang hingga saat ini berada di pengungsian.

Sumber :
http://nusantara.tvone.co.id/berita/view/45200/2010/10/30/gempa_51_sr_kembali_guncang_mentawai

________________

Kondisi Gunung Merapi Mulai Kembali Normal

Yogyakarta, (tvOne)

Kondisi Gunung Merapi yang pada Sabtu pukul 00.40 WIB meletus kini mulai berangsur-angsur normal, namun kalangan warga yang tinggal di sekitar lereng gunung teraktif di Indonesia itu diminta tetap waspada.

Menurut Kepala Pusat Mitigasi Bencana Geologi Surono, luncuran awan panas Gunung Merapi tidak akan mencapai lebih tujuh kilometer dari gunung yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut.

Dengan demikian, katanya, luncuran awan panas tidak akan mencapai Kota Yogyakarta. "Luncuran awan panas tidak akan mencapai tujuh kilometer dari Gunung Merapi. Jika warga tidak berada dalam jarak radius kurang dari itu maka akan aman," kata dia.

Sementara itu hujan abu dan pasir Gunung Merapi yang menyelimuti hingga Kota Yogyakarta kini mulai normal, namun demikian kalangan warga untuk diminta tetap waspada dan menggunakan masker sebagai pelindung agar tidak menghirup abu Gunung Merapi dan belerang yang menyengat.

Kalangan warga yang sebelumnya panik mendengar dentuman keras Gunung Merapi kini mulai tenang setelah tidak terdengar lagi letusan yang disertai awan pekat. Namun mereka belum berani pulang ke rumah masing-masing di sekitar Gunung Merapi.

Kemacetan arus lalu lintas di sepanjang Jalan Kaliurang, Kabupaten Sleman, menuju Kota Yogyatkarta sudah tidak ada, padahal sebelumnya terjadi kepanikan di antara kalangan masyarakat yang ingin menyelamatkan diri ke tempat aman di Kota Yogyakarta.

Gunung Merapi, Sabtu dini hari, selama 21 menit mengeluarkan suara letusan keras dengan mengeluarkan awan panas yang pekat sehingga membuat panik kalangan warga di sekitar gunung yang traktif di Indonesia ini.

Dentuman keras dengan mengeluarkan awan panas berlangsung mulai pukul 00.16 WIB hingga 00.37 WIB. Letusan awan panas terjadi karena suplai magma dari bawah ke atas berlangsung cepat.

Sumber :
http://nusantara.tvone.co.id/berita/view/45200/2010/10/30/gempa_51_sr_kembali_guncang_mentawai/

________________

Merapi Mengeluarkan Awan Panas Lagi

AWAN PANAS, Luncuran awan panas atau wedhus gembel Gunung Merapi kemarin terjadi sebanyak sembilan kali. Awan panas ini terlihat jelas dari Dusun Kalitengah, Glagahharjo, Cangkringan, Sleman sehingga membuat warga sempat panik.

YOGYAKARTA(SINDO) – Geliat Merapi belum berhenti.Kemarin Merapi kembali menyemburkan awan panas.Sejak pukul 00.00 WIB hingga tadi malam Merapi menyemburkan material yang biasa disebut wedhus gembel sebanyak sembilan kali. Berdasarkan pantauan alat seismitas Gunung Merapi di Kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, semburan masingmasingterjadipadapukul 01.17,06.10,08.10, 11.20, 13.46, 14.49, 14.56,19.34,dan 20.28 WIB.

Semburan awan panas tersebut diketahui mengalami perubahan arah, khususnya pada semburan terakhir, yakni pukul 19.34 dan 20.28 WIB.Dua semburan itu mengarah ke barat dengan diiringi hujan abu vulkanik di daerah Kemiren, Ngablak, Argorejo di Kabupaten Magelang.Padahal pascaerupsi, semburan awan panas selalu mengarah ke selatan yakni wilayah Kabupaten Sleman.

Semburan awan panas tidak sampai menimbulkan korban jiwa meski beberapa warga di pengungsian nekat menyempatkan diri pulang ke rumah. “Sampai saat ini tidak ada laporan korban terluka atau meninggal,” kata Komandan Satkorlak PB Sleman Widi Sutikno,kemarin. Kepala BPTTK Yogyakarta Subandriyo menyatakan,munculnya awan panas pascaerupsi adalah hal wajar. Hanya, sampai kapan awan panas akan terus menyembul, dia belum bisa memprediksi.

Namun,dia memastikan bahwa dengan masih tingginya aktivitas, status Merapi masih berbahaya atau awas (level IV). Apalagi,seismitas Gunung Merapi juga menunjukkan aktivitas peningkatan. Jumlah guguran sebanyak 285,multiphase (181), serta vulkanik (58). ‘’Masih sulit diprediksi kapan awan panas berhenti. Yang jelas, kita belum mencabut status Merapi yang masih awas,’’ katanya tadi malam.

Sedangkan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sukhyar mengingatkan ancaman lava pijar pascaerupsi Merapi, 26 Oktober. Menurutnya, luncuran lava pijar yang keluar dari perut Merapi bisa memicu longsornya material vulkanik yang ada di bawahnya.‘’Apalagi kondisi saat ini adalah musim penghujan,’’ katanya di Kantor BPPTK Yogyakarta.

Dia memprediksi, sedikitnya ada 8 juta meter kubik material vulkanik Merapi yang ada di puncak, yang merupakan tumpukan dari akumulasi material dari letusan Merapi sejak 1911.Material vulkanik itu terletak di bawah pusat letusan 26 Oktober 2010.Jika kondisi batuan di puncak Merapi tersebut terganggu aktivitas keluarnya magma atau lava pijar serta kubah baru dari letusan 2010, dikhawatirkan jutaan kubik material tersebut akan ambrol ke bawah.

Menurutdia,jikaseluruhmaterial vulkanik Merapi itu runtuh, alirannya berpotensimasukke KaliGendol. BahayanyajikaKali Gendolyang hanya mempunyai volume 6 juta meter kubik tidak akan mampu menampung material vulkanik tersebut. Akibatnya, longsoran material vulkanik yang over capacity itu akan menghantam sekitar sungai atau bahkan rumah-rumah penduduk.

‘’Longsoran material Merapi akibat hujan deras inilah yang dikhawatirkan akan menjadi bahaya sekunder,yakni banjir lahar dingin ke wilayah selatan sehingga kita masih mempertahankan status Merapi pada posisi awas serta merekomendasikan kawasan radius 10 kilometer dari puncak Merapi tetap dikosongkan,” paparnya. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Budi Waluyo membenarkanancamanbanjirlahardingin ini patut diwaspadai karena saat ini sudah memasuki musim penghujan.

Curah hujan pada Oktober ini bahkan sudah melebihi rata-rata bulanan dalam 30 tahun terakhir. ‘’Biasanya Oktober dalam 30 tahun terakhir curah hujannya hanya 107 milimeter, sekarang sudah melampaui, bahkan mencapai 200 milimeter. Sekarang ini lebih tinggi karena pengaruh La Nina,’’ katanya. Walaupun tidak sampai menimbulkan korban jiwa, semburan awan panas sempatmembuat panik sejumlah warga di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Klaten panik.

Saat Merapi mengeluarkan awan panas antara pukul 06.00- 12.00 WIB, sejumlah warga yang tinggal di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III tengah pulang ke rumah guna mengurusi hewan ternak. Minto Sukarjo, 60,warga Desa Balerante, mengaku hanya pasrah saat Merapi mengeluarkan awan panas. Saat itu dia tengah mencari rumput di hutan.Dia pasrah karena yakin luncuran awan panas tidak sampai ke Desa Balerante meski jaraknya hanya sekitar 4 kilometer dari puncak Merapi.

Keyakinan itu didasarkan karena ada dua bukit yang bersanding dengan Merapi. “Saya melihat dengan jelas awan panas yang keluar dari puncak Merapi. Namun, saya tidak lari,” kata Minto Sukarjo. Untuk menolong warga,Tim Satkorlak Penanggulangan Bencana (PB) langsung menerjunkan beberapa armada truk untuk mengangkut mereka kembali ke pengungsian. Sementara itu, korban Merapi kembali bertambah.

Sapari, 48, warga Dusun Stabelan,Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, harus merelakan kepergian anaknya,Paiman, 4, yang meninggal lantaran terkena penyakit infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) akibat debu vulkanik gunung paling aktif di Indonesia itu. Dengan demikian, total korban letusan gunung yang berada di perbatasan DIY dan Jawa Tengah itu menjadi 34 orang.

KepalaDesa Tlogolele,BudiHarsono menuturkan,korban meninggal di Rumah Sakit Umum Mutilan, KabupatenMagelang,kemarinsore. Dari hasil pemeriksaan medis rumah sakit setempat,korban meninggal diduga lantaran organ pernafasannya tersumbat debu vulkanik yang ditimbulkan dari letusan susulan Gunung Merapi yang terjadi kemarin pagi sekitar pukul 05.30 WIB.

“Saat terjadi peningkatan aktivitas vulkanik tadi pagi (kemarin pagi),anak-anak,wanita hamil,dan warga yang sudah lanjut usia yang bermukim di daerah KRB, termasuk Dusun Stabelan langsung diungsikan. Di tempat pengungsian anak itu (Paiman) mendadak batuk serta sesak nafas.Anak ini langsung dilarikan ke rumah sakit.Kondisinya cukup parah dan tidak bisa diselamatkan,” ujarnya kemarin.

Warga Masih Khawatir

Suara gemuruh dari dalam Gunung Merapi hingga kemarin masih sering didengar warga, baik yang berada di kawasan rawan bencana (KRB) III dan II.Walaupun suaranya tidak sekeras sebelum ada erupsi, 26 Oktober lalu,warga tetap khawatir Merapi kembali akan mengeluarkan awan panas dan erupsi lagi.Bahkan lebih besar daripada erupsi sebelumnya.

Kepala Dusun Petung, Kepuharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman,Yogyakarta,Pairin menyatakan, dengan kondisi tersebut, pihak mengimbau warganya agar tetap berada di pengungsian.“Kami tetap berharap warga mematuhi instruksi ini.Apalagi, Merapi selama dua hari masih terus bergolak dengan mengeluarkan awan panas dan erupsi,”ucapnya. Sementara masyarakat di Kabupaten Magelang,terutama yang berada di Kecamatan Srumbung, Salam, Dukun, dan Muntilan, kemarin merasakan hujan debu.

Berdasarkan pantauan petugas di pos pengamatan, hujan debu terjadi setelah keluarnya awan panas pada pukul 06.10, 08.39, dan 08.34 WIB.Awan panas itu berdampak pada terjadinya hujan debu. ‘’Hujan debunya relatif lebih kecil, lebih tipis.Namun,warga tetap khawatir terkena sakit pernafasan sehingga tetap memakai masker,’’ ujar Rusman, 42,warga Dusun Kalisari, Desa Mranggen, Kecamatan Srumbung. Dengan kondisi tersebut,Bupati Magelang Singgih Sanyoto mengimbau para pengungsi agar tetap tinggal di pengungsian sambil menunggu suasana aman.

Sementara pengungsi dari Desa Kaliurang dan Desa Kemiren di Kecamatan Nglumut serta Desa Srumbung dan Ngargomulyo, Kecamatan Dukun diimbau agar tetap tinggal hingga status Merapi diturunkan menjadi siaga. Imbauan sama disampaikan Camat Cangkringan Samsul Bakri. Dia meminta warganya tidak keburu balik ke rumah karena kondisi Merapi masih awas. Namun, jika ada warga yang nekat ke rumahnya, pihaknya tidak dapat menghalangi.

Selain menengok keberadaan rumahnya,kebanyakan mereka juga menengok hewan ternaknya. ’’Jika ada warga yang secara sembunyi pulang ke rumahnya,kami tidak dapat menghalangi.Hanya saja,setelah urusan selesai,diharapkan segera turun,’’ tandasnya. Sementara itu, Kapolda DIY Brigjen Pol Ondang Sutarsa kemarin sempat memimpin tim evakuasi dan Tim Polda DIY untuk membuka jalur ke Kinaharejo dan sekitarnya.

Namun, karena pada pukul 09.55 Merapi kembali erupsi dan mengeluarkan awan panas, Kapolda DIY kemudian memutuskan kembali ke bawah.Selanjutnya evakuasi dilanjutkan dan dipimpin Wakapolda DIY Kombes Pol Tjiptono. “Kami tadi berangkat pukul 08.30 WIB,namun setelah ada sirene Merapi kembali erupsi dan mengeluarkan awan panas, saya dan rombongan kembali turun,” kata Ondang Sutarsa saat tiba di barak pengungsian Kepuharjo kemarin. (ridwan anshori/priyo setyawan/m abduh/ary wahyu wibowo/angga rosa)

Sumber :
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/360728/

_____________

Kamis, 28 Oktober 2010

Pengungsi Bayi dan Anak Kekuranga Stok Susu

Magelang, CyberNews. Puluhan bayi pengungsi korban erupsi gunung merapi yang saat ini berada di pengungsian Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, mengalami kekurangan stok susu. Selain itu, kelengkapan pribadi wanita seperti pembalut, hingga hari ke dua di pengungsian ini juga belum tersedia.

Petugas penanganan pengungsi di barak KPRI Kecamatan Dukun, Gunarti mengatakan, pengungsi juga mengalami kekurangan perlengkapan mandi serta pakaian anak–anak. "Untuk kemarin hingga tadi malam, petugas sudah patungan untuk meminimalisir kekurangan itu, namun selanjutnya kami belum tau," kata Gunarti di Tempat Pengungsian Sementara (TPS) Dukun, Kamis (28/10).

Di KPRI Dukun, saat ini tengah dihuni oleh 1.248 pengungsi yang berasal dari Desa Ngargomulyo. Dari jumlah tersebut, 64 diantaranya adalah balita, sedangkan perempuan dewasa sejumlah 285 jiwa. "Selain balita dan perempuan dewasa, di tempat kami juga saat ini ditempati 143 lansia, yang terdiri dari 56 lansia laki–laki, serta 87 lansia perempuan," tambahnya.

Selain balita dan lansia, di Kecamatan Dukun ini juga terdapat anak–anak sejumlah 196, yang terdiri dari 89 anak–anak laki–laki, dan 107 anak–anak perempuan.


Sumber:
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/10/28/68968/Pengungsi-Bayi-dan-Anak-Kekuranga-Stok-Susu


Pengungsi Butuh Bahan Makanan dan Selimut

Sukoharjo, CyberNews. Gunung Merapi yang meletus beberapa waktu lalu menyisakan berbagai persoalan khusunya bagi warga sekitar Merapi. Demi keselamatannya mereka terpaksa mengungsi di tempat pengungsian. Akibatnya para pengungsi ini mulai merasakan kekurangan bantuan makan dan selimut.

Seperti halnya di dua desa Kecamatan Kemalang, Klaten yakni di Desa Dompol dan Desa Keputran. Dikabarkan di dua desa tersebut warga yang mengungsi mulai kekurangan makanan dan kedinginan. Mendengar informasi itu, warga Sukoharjo langsung membuat Posko Tanggap Darurat di Jalan Veteran atau di depan gedung DPRD Sukoharjo untuk menerima bantuan dari masyarakat.

"Kami mengkhususkan menerima bantuan mie instan dan selimut. Kedua barang itu saat ini sangat dibutuhkan warga yang ada di Desa Dompol dan Keputran," ujar S Widiono, koordinator posko kepada wartawan, Kamis (28/10).
Informasi penting soal dua jenis bantuan yang sangat dibutuhkan penduduk di pengungsian diperolehnya dari salah satu jurnalis media massa nasional yang sedang bertugas di lereng Merapi itu. Dikatakan, bantuan jenis mie dan selimut ini sangat berguna bagi warga khususnya pada cuaca hujan.
Berapapun jumlah bantuan mie dan selimut yang datang ke dua desa itu langsung habis diserbu pengungsi. "Oleh karena itu, posko ini lebih mengkhususkan meneria kedua bantuan tersebut," katanya.

Lebih lanjut Widi mengungkapkan, posko yang didirikan dengan berbagai komunitas ini hanya akan beroperasi hingga Jumat (29/10) siang. Pasalnya, pada Jumat sore bantuan dari masyarakat Sukoharjo itu selekasnya dikirim karena warga di dua desa itu tidak bisa lagi menunggu terlalu lama.

Hingga siang ini, Posko Tanggap Darurat Warga Sukoharjo untuk pengungsi letusan merapi 2010 sudah menerima bantuan sebanyak 130-an dus. Selain itu, posko juga menerima bantuan buku tulis dan selimut dari sebuah sekolah dasar di kota makmur itu.

Sumber :
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2010/10/28/68973/Pengungsi-Butuh-Bahan-Makanan-dan-Selimut

____________

Pengungsi Merapi Capai 30 Ribu Jiwa

MAGELANG--MICOM: Hingga Kamis (28/10), pengungsi korban letusan Gunung Merapi di daerah Magelang, Jawa Tengah, sudah mencapai 30 ribu jiwa.


"30 ribu jiwa ini berasal dari kawasan rawan bencana (KRB) III. Kawasan ini terdiri dari 19 desa di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Srumbung, Dukun, dan Sawangan,"terang Asisten III Sekretariat Daerah Magelang, Endra E Wacana, Kamis (28/10).

Sejumlah 30 ribu pengungsi ini ditempatkan, antara lain, di balai desa, sekolah-sekolah, dan kantor pemerintahan yang tersebar di enam kecamatan.

Tempat pengungsian di Kecamatan Muntilan ada 11 lokasi, di Kecamatan Srumbung terdapat enam lokasi, Kecamatan Sawangan lima lokasi. Lainnya di Kecamatan Salam lima lokasi, di Mungkid tiga lokasi, dan di Kecamatan Dukun terdapat sembilan lokasi.

"Kebanyakan mereka mengungsi sejak Selasa Malam (26/10). Kondisi membludaknya jumlah pengungsi ini diluar dugaan. Pasalnya, sebelum ini mereka menolak diungsikan. Tapi sekarang justru mengungsi," katanya. (OL-3)

Sumber :

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/10/28/178304/274/101/Pengungsi-Merapi-Capai-30-Ribu-Jiwa

______________

Selasa, 26 Oktober 2010

Merapi Meletus

PMI Bantu Evakuasi Warga

RMOL. Gunung Merapi meletus sore tadi. Untuk membantu pengungsi, PMI Magelang, Boyolali, dan Klaten Jawa Tengah membantu proses evakuasi para warga menuju lokasi yang relatif aman.

Di Magelang, PMI Kabupaten Magelang membantu proses evakuasi 2.491 pengungsi dari Desa Kaliurang untuk ditempatkan di lokasi pengungsian di Lapangan Jumoyo dan Balai Desa Jumoyo di Kecamatan Salam.

Di lokasi pengungsian ini, para relawan membuka layanan dapur umum, air dan sanitasi darurat, layanan kesehatan, melakukan kegiatan dukungan psikologi, dan distribusi bantuan bagi pengungsi.

Bantuan untuk para pengungsi juga tengah disiapkan PMI Kabupaten Magelang.

“Sampai saat ini kami telah menerima bantuan 25 tenda keluarga, 3.120 buah masker, 750 selimut, dan 40 tikar plastik. Bantuan ini akan kami distribusikan segera ke para pengungsi setelah kami dapatkan hasil asesmen di lapangan hari ini,” kata Arief Setyohadi, staf PMI Kabupaten Magelang.

Sebanyak 70 relawan PMI sudah disiagakan. Selain dari PMI Kabupaten Magelang, para relawan juga datang dari PMI Kabupaten Wonosobo dan PMI Kabupaten Temanggung. Selain personil, untuk proses evakuasi warga ini PMI Kabupaten Magelang juga menyiapkan 1 unit ambulans, 2 kendaraan operasional, dan 1 buah truk.

Di Boyolali, PMI Kabupaten Boyolali telah menyiapkan lokasi pengungsian di Kecamatan Selo dan mendirikan posko lapangan di sekitar rumah penduduk. Data yang diterima dari BPPTK Boyolali, hingga hari ini, belum ada masyarakat yang mengungsi.

“Kami masih siaga terus jika sewaktu-waktu proses evakuasi warga terjadi,” kata Teguh, staf PMI Kabupaten Boyolali.

Sementara itu proses evakuasi warga di Klaten telah berlangsung. PMI Kabupaten Klaten membantu proses evakuasi di wilayah KRB 3 Gunung Merapi yang terdiri dari tiga pos pengungsian dari tiga desa. Pos pengungsian Bawukan menampung sekitar 1.780 pengungsi dari Desa Balerante. Pos pengungsian Keputran menampung pengungsi dari Desa Sidorejo dan Kendalsari sebanyak sekitar 2.660. Pos pengungsian Dompol menampung sekitar 1.287 pengungsi dari Desa Tegalmulyo.

“Relawan PMI membantu untuk mengevakuasi para manula, wanita, ibu hamil dan anak-anak dan bertanggung jawab terhadap Pos pengungsian Dompol,” kata Dalhar, staf Divisi Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Klaten.

Dalam kesiapsiagaan gunung Merapi ini, PMI Kabupaten Klaten menyiagakan 30 relawan Satgana (Satuan Penanggulangan Bencana) yang juga bertugas untuk menyiapkan layanan dapur umum dan bertugas di pos pengungsian.

Untuk mendukung kesiapsiagaan Gunung Merapi ini, PMI Provinsi Jawa Tengah menyiapkan berbagai bantuannya, dari personil dengan spesialisasi bidang tertentu, alat transportasi, obat-obatan, sampai alat penerangan yang diperlukan di lokasi pengungsian.

Sumber :
http://www.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=7667

_____________

MERAPI MELETUS PMI Bantu Evakuasi Warga

Jalur Komunikasi dan Transportasi di Mentawai Masih Terputus

TEMPO Interaktif, Jakarta - Sejak terjadi gempa berkekuatan 7,2 skala richter di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat kemarin, jalur komunikasi dan transportasi di Mentawai masih terputus. Hal itu diungkapkan oleh Koordinator komunikasi PMI daerah Sumatera Barat Eko Suhadi ketika dihubungi Tempo, Rabu (27/10).

"Relawan yang berangkat sejak kemarin sampai sekarang juga belum dapat dihubungi, kita tidak tahu apakah mereka sudah sampai di lokasi atau belum,"katanya.

Jumlah relawan yang dikirimkan PMI hingga hari ini adalah sebanyak 15 orang. Relawan itu terdiri dari dokter dan juga ahli penanggulangan bencana. Relawan PMI itu dikirimkan menggunakan kapal milik pemerintah daerah dengan membawa bantuan berupa 400 kantung mayat dan makanan.
"Disana tugas mereka akan melakukan pendataan terutama evakuasi korban,"ujar Eko.

Korban tewas akibat tsunami di Mentawai hingga pukul 21.00 WIB, Selasa (26/10) sebanyak 112 orang , sedangkan korban hilang 502 orang. Angka itu masih belum pasti dikarenakan berbedanya jumlah korban yang dicatat oleh berbagai lembaga.

Sumber :
http://www.tempointeraktif.com/hg/kesra/2010/10/27/brk,20101027-287522,id.html

__________

Gempa Mentawai Mampu Picu Gempa Lebih Besar




Jakarta
- Gempa 7,2 dalam Skala Richter (SR) yang terjadi di Kepulauan Mentawai mampu memicu gempa lebih besar (megathrust) dari gempa sebelumnya.

"Kalau ditanya kemungkinan terjadi, bisa saja kemungkinan itu terjadi," kata Kepala Bidang Gempa Bumi dan Pergerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Geologi (PVMG), I Gede Swantika, saat berbincang dengan detikcom, Rabu (27/10/2010).

Namun, dia melanjutkan, kemungkinan megathrust tidak terjadi dalam waktu dekat. Pusat gempa berada di zona subduksi atau daerah penunjaman yang mengarah ke barat.

"Tidak dalam waktu dekat, bisa jadi berpuluh-puluh tahun nanti," ujarnya.

Gede mengatakan, gempa hebat yang melanda kepulauan Mentawai pada Senin lalu berada di luar jalur Mentawai. Berbeda dengan gempa-gempa sebelumnya, yaitu gempa Padang, Nias, Bengkulu, dan Aceh, yang terjadi di jalur Mentawai.

"Karena berada di jalur yang sama itu gempa saling mempengaruhi gempa-gempa di Sumatra," katanya.

Sedikitnya 113 orang tewas dalam musibah gempa dan tsunami pada Senin (25/10/2010). Tsunami setinggi 3-7 meter adalah penyebab banyaknya korban tewas dibandingkan dengan gempa 7,2 SR yang terjadi pukul 21.40 WIB.

Sumber :
http://www.detiknews.com/read/2010/10/27/084124/1476185/10/gempa-mentawai-mampu-picu-gempa-lebih-besar

_________

Rincian Korban Mentawai

Update : 27 Oktober 2010




Berikut rincian jumlah korban, lokasi ditemukannya korban tewas, dan warga yang hilang berdasarkan data sementara yang diumumkan oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno, Selasa (26/10/2010) malam.

Jumlah Korban:

* Korban Tewas: 112 orang
* Korban hilang: 502 orang
* Korban mengungsi: 4.000 keluarga

Lokasi ditemukannya korban tewas:

1. Dusun Munte Baru-Baru, Desa Betomonga, Kecamatan Pagai Utara,---58 orang.
2. Dusun Beleraksok, Desa Kecamatan Pagai Selatan,-----------------15 orang.
3. Dusun lain di Desa Betomonga, Kecamatan Pagai Utara,------------10 orang.
4. Dusun Takbaraboat, Desa Kecamatan Pagai Selatan,----------------10 orang.
5. Desa Geliulou, Kecamatan Sipora Selatan,-------------------------5 orang.
6. Dusun Gobik, Desa Bosua, Kecamatan Sipora Selatan,---------------4 orang.
7. Dusun Masokut, Desa Geliulou, Kecamatan Sipora Selatan,----------4 orang.
8. Desa Silabu, Kecamatan Pagai Utara,------------------------------3 orang.
9. Desa Bosuo, Kecamatan Sipora Selatan,----------------------------1 orang.
10. Dusun Bukkumonga, Kecamatan Pagai Selatan,-----------------------1 orang.
11. Desa Malakkopa, Kecamatan Pagai Selatan,-------------------------1 orang.

Lokasi warga dilaporkan hilang:

1. Dusun Munte Baru-Baru, Desa Betomonga, Kecamatan Pagai Utara,--270 orang.
2. Dusun lain di Desa Betomonga, Kecamatan Pagai Utara,-----------212 orang.
3. Dusun Takbaraboat, Desa Kecamatan Pagai Selatan,----------------20 orang.

Sumber :
http://nasional.inilah.com/read/detail/922712/inilah-rincian-korban-mentawai

_________